Wednesday, July 17, 2013

Katarsis

Nama gadis itu Tara Johandi. Umurnya saat itu 18 tahun ketika pertama kali ditemukan polisi berada di kotak perkakas kayu dalam kondisi syok berat. Ia ditemukan bersamaan dengan penemuan mayat ayah dan bibinya yang bersimbah darah serta sepupu laki-lakinya yang diduga telah di mutilasi oleh kawanan penjahat yang saat itu sedang melakukan aksi perampokan. Dari kejadian itu pamannya masih bisa terselamatkan meski sudah tidak sadarkan diri.

Kasus pembunuhan dan penyekapan itu mendadak menjadi bahan pemberitaaan di seantero negeri. Semua orang menyebut Tara sebagai 'gadis yang terselamatkan itu'. Kasus yang menjadi pusat perhatian masyarakat itu pun mau tidak mau menekan polisi untuk bekerja maksimal menangani kasus tersebut. Tara pun  lalu menjadi sasaran introgasi polisi, terlebih  lagi setelah dilakukan penyelidikan dan mereka menemukan petunjuk-petunjuk ganjil dari  peristiwa yang terjadi. Sementara itu, Alfons, psikiater Tara bahkan sebelum kejadian itu terjadi , berusaha mendampingi Tara menghadapi introgasi polisi yang semakin lama semakin menyudutkan Tara.
"Rasa sakit itu ada untuk melindungi dan mengajarimu banyak hal" (hal 183)
Apakah Tara benar-benar hanya sebagai korban dalam kejadian ini? tak ada yang benar-benar tahu. Psikiater itu yakin ada suatu rahasia yang disimpan gadis itu rapat-rapat dan dia berusaha mencari tahu dengan melakukan pendekatannya sendiri terhadap Tara. Katarsis. Ya dia melakukan metode itu untuk menghadapi Tara. Suatu metode dimana seseorang dibiarkan untuk meluapkan emosinya yang terpendam dengan menceritakan masa lalunya. Disamping itu, Alfons juga bertindak tidak hanya  sebagai psikiater yang terlibat dalam pemecahan kasus keluarga Johandi tapi juga menjadi teman bagi Tara sehingga gadis itu lebih mudah menceritakan segala sesuatunya pada psikiater muda itu.

Ditengah-tengah usaha pemulihan Tara dari syok yang dialaminya. Munculah Ello, laki-laki yang pernah menjadi bagian dari masa lalu Tara. Ia  muncul bersamaan dengan kasus pembunuhan berantai yang kian marak terjadi. Diduga pembunuhan berantai itu sama dengan kejadian yang terjadi bertahun-tahun silam dengan melibatkan kotak perkakas kayu, benda yang paling dibenci Tara. Apakah Tara akan menjadi korban pembunuhan berantai berikutnya? Apakah ini ada hubungannya dengan masa lalu Tara?

Beruntung sekali aku menemukan Katarsis dan dapat membaca novel karangan Anastasia Aemilia ini, salah seorang editor dan penerjemah di Gramedia Pustaka Utama . Novel ini betul-betul menghanyutkan. Aku suka cover dan juga alur ceritanya. Kupikir aku akan bosan karena aku tidak terlalu menyukai genre psychological thriller tapi ternyata aku salah. Aku ketagihan. Apalagi dengan diksi dari penulis yang mengalir lancar,simpel, dan mengandung  pembendaharaan kata yang kaya.

Dari segi karakter aku mengacungi jempol pada karakternya. Tara, Ello, maupun Alfons. Mereka bertiga merupakan kombinasi karakter yang pas dalam menghidupkan novel ini  melalui penggambaran kehidupan masing-masing. Tara yang hidup dengan rasa 'sakit' yang dibawanya,kemunculan Ello dengan congenital insensitivity to pain nya yang membuat siapapun bergidik, ditambah Alfons yang tetap jadi psikiater cool meskipun kasus yang ditanganinya membuatnya pusing tujuh keliling. Apalagi makin ke tengah, novel ini yang semula menyajikan thriller menegangkan mulai menyisipkan bagian romance ketiganya meski masih tetap dalam atmosfer yang sama tapi (sayang) dengan kadar sepersepuluh dari keseluruhan cerita. (sabar aja ya bagi penikmat romance).hehe.

Tapi, mungkin yang perlu sedikit dibenahi adalah pada perpindahan narator yang tidak halus. Karena keseluruhan cerita menggunakan POV orang pertama, "aku" sehingga ketika terjadi perpindahan dari orang yang satu ke yang lain terasa begitu tiba-tiba tanpa adanya pemberitahuan yang jelas, seperti misalnya pada bagian dua ke bagian tiga, dari Tara ke Ello. Lalu juga dibagian-bagian terakhir yang terasa dipercepat. Aku merasa banyak sekali bagian yang dipadatin yang seharusnya bisa dikembangkan, mungkin karena alasan tertentu, tapi so far tidak mengurangi inti ceritanya. Itu yang terpenting.

Kemudian hal yang masih membingungkan dan terasa masih mengganjal adalah kekesalan Tara pada namanya. Aku masih tidak memahami mengapa dia sebegitu benci pada nama itu. Apakah itu karena pemberian orang tuanya?Memangnya apa yang telah diperbuat orang tuanya hingga namanya sendiri begitu dibenci sedemikian rupa? padahal dari novel ini  hanya dijabarkan sedikit  gambaran masa lalunya dan itupun  kurang jelas serta terlalu ringan untuk membuat seseorang seperti Tara berada dalam kondisi psikis yang begitu mengkhawatirkan seperti yang diuraikan dalam novel ini.

Ya, biarpun begitu, secara keseluruhan novel ini masih tetap mempesona dengan caranya sendiri. Sangat Recommended bagi penikmat novel thriller, yang ingin merasakan sensasi yang berbeda dari novel kebanyakan, tapi jangan coba-coba bagi yang tidak suka adegan berdarah-darah karena novel ini akan menyajikan lebih dari itu dan no filter. Novel yang juga pastinya akan  membuatmu mengerti pada akhirnya bagaimana ragam kehidupan manusia dari segala sisi berikut kesederhanaan dari apa yang dinamakan perasaan cinta,sedih, dan benci dalam diri manusia.

=================

Judul : Katarsis
Penulis : Anastasia Aemilia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit : @2013
ISBN :  978-979-22-9466-8
Tebal : 264 hal

=================

2 comments:

  1. aku juga nggak nyagka kalau bakalan suka, aku suka trik menyekap korban di dalam kotak kayu, jenius! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Peri Hutan: yap sama mbak sulis. Jenius! :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...