Monday, April 30, 2012

Danur



Pernakah terbayang olehmu berkenalan oleh makhluk halus yang sering kau sebut hantu? mengobrol,bercanda tawa, bahkan menjalin persahabatan dengannya?
Hal itulah yang dialami oleh seorang Risa Saraswati. Sejak kecil ia sudah terpisah dari kedua orang tuanya dan tinggal bersama nenek dan sepupunya di sebuah rumah peninggalan Belanda. Disanalah pertemuan pertamanya dengan makhluk dimensi lain terjadi. Ia berkenalan dengan Peter, Hans, Hendrick,William,dan Jahnsen, lima anak hantu Belanda yang mendiami rumah tua itu bersama hantu keluarga Belanda lainnya. Anehnya tak ada sedikitpun rasa takut yang menghinggapinya. Yang ada hanyalah kenyamanan dan rasa persahabatan yang didapatnya dari kelima anak hantu Belanda tersebut.


Risa pun setelah itu merasa  tak lagi  diliputi kerinduan pada orang tuanya di desa karena  lima sahabat hantunya telah berhasil mewarnai hari-harinya. Mereka berlima hadir membawa keceriaan dan kebahagiaan dalam hidupnya.  Karenanya, sebagai sahabat pula, Risa berusaha mencoba menjadi pendengar baik untuk sahabat-sahabat hantunya. Kebanyakan dari mereka bercerita mengenai kesedihan yang masih terus mereka berlima  rasakan karena ulah kekejaman Jepang  yang merengut paksa kehidupan dari diri mereka. Terkadang dalam bercerita, mereka kerap menunjukan ekspresi kemarahan,amukan,serta jeritan yang diikuti perubahan wujud mereka yang seringkali mengerikan. Risa yang saat itu masih belia, tanpa rasa takut ,mencoba untuk bersikap simpati dan diam-diam memilih mengambil hikmah dari setiap kisah tragis yang dialami sahabat-sahabat hantunya serta lebih banyak bersyukur pada kehidupan yang ia tengah miliki saat itu.


Tahun demi tahun berlalu dengan cepat. Persahabatan istimewa antara Risa dan kelima sahabat hantunya diuji. Risa yang saat itu tumbuh dan  berkembang pesat menuju usia remaja berjanji pada Pieter untuk mengakhiri hidupnya diusia yang sama dengan Pieter kala itu, 13 tahun. Alasannya tidak lain adalah agar mereka selamanya tetap bersama tanpa takut menjadi dewasa . Ia pun  mencoba menepati janji itu dengan melakukan percobaan bunuh diri selama tiga kali dan semuanya gagal. Risa pun menyesal karena melanggar janji yang tak seharusnya ia ucapkan itu. Tapi nasi telah menjadi bubur. Pieter marah besar hingga kemudian mengajak serta keempat sahabat hantu lainnya untuk menjauh selamanya dari kehidupan Risa. 
 Risa pun ditinggal sendiri. Ia lebih memilih menyibukkan dirinya dengan dunia normal yang seharusnya menjadi tempatnya berada sejak dulu. Dengan kebulatan tekad, ia pun mencoba menutup mata dan telinga terhadap kemampuannya melihat hantu-hantu yang datang silih berganti dalam berbagai wujud demi meminta pertolongan darinya. Ia sudah muak dengan kemampuan supranatural ini. Sejak kepergian kelima sahabat terbaiknya ia merasa tak lagi ingin berhubungan dengan hantu manapun. Hantu hantu itu hanya memberi energi negatif padanya melalui kisah-kisah tragis mereka dan ia sama sekali tidak menginginkan semua itu. Lantas apa yang sebenarnya yang inginkan? apakah ia harus melepaskan kemampuan supranaturalnya demi menjadi manusia normal seutuhnya?kalau ia melakukan hal itu, ia tahu benar tak akan bertemu lagi dengan Pieter dan sahabat-sahabat hantunya yang ia cintai. Apa yang harus ia perbuat?Bagaimanapun juga ia tidak sanggup menolak lubang-lubang kerinduan yang menganga dalam dirinya. Ia butuh mereka berlima disisinya, tapi apa itu salah?


Melihat sekilas judul buku ini, kita akan bertanya-tanya, Apa sebenarnya maksud dari Danur itu sendiri? Setelah ditelisik, Danur itu ternyata ialah air yang keluar dari jasad makhluk hidup yang telah mati dan membusuk. Terasa menyeramkan? Tapi setidaknya Danur disini merupakan gerbang dialog tersendiri bagi Risa untuk berkomunikasi dengan makhluk dimensi lain termasuk dalam mengkomunikasikan izin penyajian kisah sehingga kisah buku ini bisa nikmati siapapun.


Bagiku pribadi, buku ini merupakan sebuah bacaan yang sangat menarik dengan tema horor yang diangkatnya.Plotnya sama sekali tidak klise dan  alur dalam buku ini juga mengalir apa adanya. Tidak ada paksaan untuk harus mempercayai apapun yang tertulis karena layaknya diari, buku ini seperti tengah bercerita tanpa berusaha menuntut. Setiap pengolahan kata dan diksinya juga pas, awal yang bisa dikatakan sangat baik bagi penulis baru seperti Risa.Tidak hanya itu selipan humor didalamnya--meski tidak banyak---memberikan ruang bagi pembaca untuk sejenak rileks  dari kisah serius perjalanan dan pergolakan batin Risa selama ia berhubungan dengan makhluk dari dimensi lain.


Janshen: Risa, aku kangen kakakku..
Risa:Aku tahu pasti malam ini kamu ingat padanya. Anna yang cantik kebanggaanmu itu,kan?
Janshen: Iya, Anna kakakku yang cantik!Lebih cantik dari kamu Risa! 
Risa: Aku tahu kok! pasti Anna hidungnya mancung,sementara hidungku jongkok tak menarik.
Janshen: Siapa bilang hidungmu jongkok? 
Risa: mmm...baiklah,kalau begitu hidungku duduk!
Janshen: Bukan!Hidungmu tidur terlentang! Hahahaha
Risa: Janshen!!! dasar ompong! 
(60-61)


Bagaimanapun juga aku hanya bisa mengatakan bahwa buku setebal 216 halaman ini sama sekali tidak semenakutkan yang dikira. Meski menceritakan kisah Risa dan pengalamannya bersama para makhluk tak kasat mata, hal itu lantas tak membuat buku ini murni horor dan hanya berusaha menakut-nakuti. Disini pembaca akan mendapati sisi manusiawi para hantu yang dulunya pernah hidup dalam sudut pandang berbeda-beda. Kisah mereka pun juga patut dijadikan pembelajaran dalam mengoreksi hidup kedepannya. Tapi percaya atau tidak pada kisah hantunya, Risa hanya bisa menegaskan seperti dalam kata pengantar buku ini. " Tidak perlu mempercayai keberadaan mereka karena mereka tak butuh pengakuan " Ya, mereka hanya butuh untuk didengar…

=================

Judul : Danur
Penulis : Risa Saraswati
Penerbit: Bukune
Terbit : @2012
ISBN : 602-220-019-9
Tebal : 216 hal

=================

Ost Danur (Risa Saraswati ft Arina-Mocca)


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...