Monday, September 19, 2011

Coffee at Little Angels



Kabar kecelakaan tragis yang menimpa Philip, seorang sahabat masa kecil pada suatu pagi menggemparkan tujuh orang sahabat yang ditinggalkannya. Mereka adalah Sarah, Maxine,Melanie, Caleb, Grant, Kaitlyn, dan Josh. Mereka bertujuh yang diantaranya  berada di luar kota dan menjalani kehidupan dewasanya masing-masing, akhirnya dipanggil kembali untuk reuni bersama. Tapi kali ini reuni bersama mereka bukanlah bertujuan melepas rindu karena berjauhan selepas SMA, tapi lebih pada melepas kepergian sahabat mereka selama-lamanya pada sebuah upacara pemakaman di kota kelahiran mereka .

Diantara mereka bertujuh,Sarah, kekasih Philip lah yang paling terpukul dengan adanya berita kematian ini. Ia tak pernah menyangka bahwa Philip, laki-laki terdekat dalam hidupnya itu, telah pergi  dari kehidupannya hingga membuatnya merasa ditinggalkan seorang diri. Ia sangat syok dan hanya mampu mengenang saat-saat kebersamaannya dengan Philip sampai upacara pemakaman dilaksanakan.

Disamping itu,enam sahabat lainnya, masing-masing memiliki tanggapan yang berbeda-beda begitu mengetahui kematian Philip yang tiba-tiba itu. Ada yang menanggapinya dengan terkejut, biasa saja, dan hampir tak peduli jika saja tidak mengingat persahabatan yang mereka bangun semasa kecil. Apapun tanggapan masing-masing, mau tidak mau mereka harus berkumpul bersama,melepas kepergian Philip atas dasar persahabatan, meskipun arus mengalahkan ego dan kepentingan yang menghalangi mereka di kehidupan nyata.

Sejujurnya Coffe at Little Angels ini  tergolong novel yang cukup unik dengan menawarkan konflik batin yang tak biasa. Konflik seputar delapan orang sahabat dan bagaimana kerelaan sahabat yang ditinggalkan ketika dihadapkan kematian sahabatnya sendiri. Di mulai dengan detik-detik peristiwa kecelakan tragis yang menimpa Philip hingga kemudian kisah tujuh sahabat lainnya dalam menyikapi kematian berikut keputusan mereka untuk bisa berkumpul bersama-sama lagi di hari pemakaman Philip, sahabat mereka sendiri.

Sepanjang alur cerita  berlangsung itu pun, ternyata Nadine tidak lupa meramunya melalui sudut pandang yang juga sama tak biasanya. Delapan orang. Bayangkan delapan, bukan satu ataupun dua! delapan pandangan dari delapan karakter sahabat membuat novel ini terasa istimewa sekaligus menyulitkan. Kenapa? karena disamping sisi istimewa dimana kita dapat mengetahui kejadian,alasan, maupun pandangan hidup masing-masing karakter hingga membuat kisahnya menjadi jelas, kita  juga akan disulitkan jika hendak berhenti membaca novel ini untuk sementara waktu.  Setiap chapter novel ini bukan tertulis dengan angka ataupun judul masing-masing chapter, tapi nama-nama tiap karakter berikut sudut pandangnya yang beganti-ganti selama delapan kali hingga akhirnya kita akan kebingungan sendiri kalau hendak mulai lagi membaca karena harus mengingat sudut pandang siapa yang terakhir kita baca.huh!

Tapi terlepas dari itu semua, aku suka konsep ceritanya yang ternyata diambil dari kisah nyata Nadine, sang pengarang sendiri. Ia pernah kehilangan sahabat SMA nya  dan mencoba menggali kisah dari peristiwa itu hingga melahirkan novel ini. Memang, kalau dibaca, novel ini terasa kentara sekali konflik emosional setiap karakternya karena jelas sekali penulis berusaha keras memberi poin lebih dari unsur psikologinya. Meskipun begitu, aku tak menampik kalau hal ini sempat membuatku berhenti membaca di pertengahan novel ini karena aku merasa capek mungkin karena tak terbiasa dengan konflik-konflik mendalam seperti ini.

Kalau ditanya kekurangannya lebih pada plotnya yang terkesan datar-datar saja. Padahal seperti kukatakan sebelumnya, konsepnya bagus tapi pengolahan plotnya kurang sehingga bisa dibilang cenderung membosankan. Tapi, yah,aku tetap berusaha menamatkan novel ini karena rasa penasaran juga di akhir-akhir chapter.Oh well..


“Loving Sarah was like reading a particularly good book. That pressing and overwhelming need to just devour it as fast as possible is matched only by the need to savour it slowly and completely, lest all come to an end too soon. The all-consuming emotions are so many and varied that it is almost impossible to pick out one for a few minutes attention. They mainly stay jumbled and unattended, and for the most part not entirely understood or satisfied. But then, maybe it is in the understanding of our love for someone that the love itself disappears altogether. If so, then I don't want to understand, and I remain content to simply experience her. Somehow, the more I learn about Sarah, the better I understand myself.
And the more I fall in love.”


(Philip) ohhhhhhh..yaaa..ini karakter favoritku lho!! :D:D

Special thanks to : Nadine Rose larter yang mengirimiku soft copy novel perdananya ini bulan Juli lalu (maaf baru sekarang bisa di baca) 


ps: Kalau kamu tertarik baca novel ini kamu bisa memesan e-book via online disini atau menunggu versi cetaknya keluar.hehe Selamat membaca.

=================

Judul : Coffee at Little Angels
Penulis : Nadine Rose Larter
Penerbit: The Katalina Playroom
Terbit : @2011
ISBN :
Tebal : 188 hal

=================

3 comments:

  1. Kalo pesan ebook via online, bayarnya... gimana?

    ReplyDelete
  2. "Loving Sarah was like reading a particularly good book"

    Sirik abisss bisa dicintai seperti itu ;)

    ReplyDelete
  3. salam kenal^^,,senang ketemu blog tentang buku2

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...